ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GLUKOMA

Senin, 18 April 2011

A. DEFINISI
Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.(Sidarta Ilyas,2000).
Galukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)
B. ETIOLOGI
Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intraokuler ini disebabkan oleh :
- Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan ciliary
- Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil
C. KLASIFIKASI
1. Glaukoma primer
- Glaukoma sudut terbuka
Merupakan sebagian besar dari glaukoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada, kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.

- Glaukoma sudut tertutup(sudut sempit)
Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.
2. Glaukoma sekunder
Dapat terjadi dari peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab.
- Perubahan lensa
- Kelainan uvea
- Trauma
- bedah
3. Glaukoma kongenital
- Primer atau infantil
- Menyertai kelainan kongenital lainnya
4. Glaukoma absolut
Merupakan stadium akhir glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut .Pada glaukoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.
Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.
Berdasarkan lamanya :
1. GLAUKOMA AKUT
a. Definisi
Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.
b. Etiologi
Dapat terjadi primer, yaitu timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik mata depan yang sempit pada kedua mata, atau secara sekunder sebagai akibat penyakit mata lain. Yang paling banyak dijumpai adalah bentuk primer, menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih.
c. Faktor Predisposisi
Pada bentuk primer, faktor predisposisinya berupa pemakaian obat-obatan midriatik, berdiam lama di tempat gelap, dan gangguan emosional. Bentuk sekunder sering disebabkan hifema, luksasi/subluksasi lensa, katarak intumesen atau katarak hipermatur, uveitis dengan suklusio/oklusio pupil dan iris bombe, atau pasca pembedahan intraokuler.
d. Manifestasi klinik
1). Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan daerah belakang kepala .
2). Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah , kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma akut.
3). Tajam penglihatan sangat menurun.
4). Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat.
5). Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar.
6). Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh.
7). Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif, akibat timbulnya reaksi radang uvea.
8). Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat.
9). Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media penglihatan.
10). Tekanan bola mata sangat tinggi.
11). Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal.
e. Pemeriksaan Penunjang
Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan.
Perimetri, Gonioskopi, dan Tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang.
f. Penatalaksanaan
Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk operasi. Dievaluasi tekanan intraokuler (TIO) dan keadaan mata. Bila TIO tetap tidak turun, lakukan operasi segera. Sebelumnya berikan infus manitol 20% 300-500 ml, 60 tetes/menit. Jenis operasi, iridektomi atau filtrasi, ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaab gonoskopi setelah pengobatan medikamentosa.
2. GLAUKOMA KRONIK
a. Definisi
Glaukoma kronik adalah penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.
b. Etiologi
Keturunan dalam keluarga, diabetes melitus, arteriosklerosis, pemakaian kortikosteroid jangka panjang, miopia tinggi dan progresif.
c. Manifestasi klinik
Gejala-gejala terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata. Penyakit berkembang secara lambat namun pasti. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan gelap, lebih kabur, lapang pandang sempit, hingga kebutaan permanen.
d. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi dan tonometri menunjukkan peningkatan. Nilai dianggap abnormal 21-25 mmHg dan dianggap patologik diatas 25 mmHg.
Pada funduskopi ditemukan cekungan papil menjadi lebih lebar dan dalam, dinding cekungan bergaung, warna memucat, dan terdapat perdarahan papil. Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan lapang pandang menyempit, depresi bagian nasal, tangga Ronne, atau skotoma busur.
e. Penatalaksanaan
Pasien diminta datang teratur 6 bulan sekali, dinilai tekanan bola mata dan lapang pandang. Bila lapang pandang semakin memburuk,meskipun hasil pengukuran tekanan bola mata dalam batas normal, terapi ditingkatkan. Dianjurkan berolahraga dan minum harus sedikit-sedikit.
D. PATHWAY GLAUKOMA
Usia > 40 th
DM
Kortikosteroid jangka panjang
Miopia
Trauma mata



Obstruksi jaringan peningkatan tekanan
Trabekuler Vitreus



Hambatan pengaliran pergerakan iris kedepan
Cairan humor aqueous




TIO meningkat Glaukoma TIO Meningkat




Gangguan saraf optik tindakan operasi




Perubahan penglihatan
Perifer




Kebutaan

E. ASUHAN KEPERAWATAN
1). Pengkajian
a) Aktivitas / Istirahat : Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.
b) Makanan / Cairan : Mual, muntah (glaukoma akut)
c) Neurosensori : Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak).
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia(glaukoma akut).
Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
Tanda :
Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan.
Peningkatan air mata.
d) Nyeri / Kenyamanan :
Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).
e) Penyuluhan / Pembelajaran
Riwayat keluarga glaukoma, DM, gangguan sistem vaskuler.
Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin.
Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.
2). Pemeriksaan Diagnostik
(1) Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.
(2) Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
(3) Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
(4) Pengukuran gonioskopi :Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.
(5) Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya meningkat ringan.
(6) Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma.
(7) Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
(8) EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi,PAK.
(9) Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.
F. Diagnosa Keperawatan Dan Intervensi
a. Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
- pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri
- pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
- ekspresi wajah rileks
Intervensi :
- kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri
- kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgesik
- anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang
- atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman.
- Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO
- Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
- Berikan analgesik sesuai anjuran
b. Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan;gangguan status organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.
Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria Hasil:
- Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan
- Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.
Intervensi :
- Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan
- Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan
- Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis
- Lakukan tindakan untuk membantu pasien menanganiketerbatasan penglihatan, contoh, kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam.
- Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi
c. Ansitas b. d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup.
Tujuan : Cemas hilang atau berkurang
Kriteria Hasil:
- Pasien tampak rileks dan melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
- Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah
- Pasien menggunakan sumber secara efektif
Intervensi :
- Kaji tingkat ansitas, derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.
- Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan mencegah kehilangan penglihatan tambahan.
- Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.
- Identifikasi sumber/orang yang menolong.
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi, ditandai dengan ;pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang dapat dicegah.
Tujuan : Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya.
Kriteria Hasil:
- pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
- Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit
- Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi :
- Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi,
- Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata.
- Izinkan pasien mengulang tindakan.
- Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata. Diskusikan obat yang harus dihindari, contoh midriatik, kelebihan pemakaian steroid topikal.
- Identifikasi efek samping/reaksi merugikan dari pengobatan (penurunan nafsu makan, mual/muntah, kelemahan,
jantung tak teratur dll.
- Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup
- Dorong menghindari aktivitas,seperti mengangkat berat/mendorong, menggunakan baju ketat dan sempit.
- Diskusikan pertimbangan diet, cairan adekuat dan makanan berserat.
- Tekankan pemeriksaan rutin.
- Anjurkan anggota keluarga memeriksa secara teratur tanda glaukoma.
DAFTAR PUSTAKA
1. Junadi P. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FK-UI, 1982
2. Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata, FKUI, 2000.
3. Long C Barbara. Medical surgical Nursing. 1992
4. Doungoes, marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed 3, EGC, Jakarta, 2000
5. Susan Martin Tucker, Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosisi dan Evaluasi. Ed 5 Vol3 EGC. Jakarta 1998
6. Brunner & Suddart. Keperawatan Medical Bedah EGC. Jakarta 2002

Read More..

TEHNIK MENGATASI NYERI “DISTRAKSI”

Minggu, 10 April 2011

PENGERTIAN
Suatu metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian klien pada hal-hal lain , sehingga klien akan lupa terhadap nyeri yang dialami.
MACAM-MACAM TEHNIK DISTRAKSI
1. Bernafas pelan-pelan
2. Masase sambil menarik nafas pelan
3. Mendengarkan lagu sambil menepuk-nepukan jari/kaki

4. Membayangkan hal-hal yang indah sambil menutup mata
5. Menonton TV (acara kegemaran)

BIMBINGAN IMAJINASI (GUIDED IMAGERY)
1. Bina Hubungan saling percaya
2. Jelaskan prosedur : tujuan, posisi, waktu, dan peran perawat sebagai pembimbing.
3. Anjurkan klien mencari posisi yang nyaman menurut klien
4. Duduk dengan klien tetapi tidak mengganggu.
5. Lakukan pembimbingan dengan baik terhadap klien.
6. Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan memulainya lagi ketika klien siap.
 Minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau pengalaman yang membantu penggunaan semua indra dengan suara yang lembut.
 Ketika klien rileks, klien berfokus pada bayangannya dan saat itu perawat tidak perlu bicara lagi.
 Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan memulainya lagi ketika klien telah siap.
 Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh. Setelah 15 menit, klien harus memperhatikan tubuhnya, lalu catat daerah yang tagang dan daerah ini akan digantikan dengan relaksasi. Biasanya klien rileks setelah menutup mata atau mendengarkan musik yang lembut sebagai background yang membantu.
 Catat hal-hal yang digambarkan klien dalam pikiran untuk digunakan informasi spesifik yang diberikan klien dan tidak membuat perubahan pernyataan klien.

Read More..

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN SECTIO CAESERA PRESENTASI BOKONG

Senin, 31 Januari 2011

A. Pengertian
Sectio sesarea atau persalinan caesarea didefinisikan sebagai melahirkan janin melalui incisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histereotami) obstetri wiliam.
Bayi dengan presentasi bokong lebih sering dilakukan dengan Sectio caesaria sebagai contoh tahun 1985 79 % dari semua bayi dengan presentasi bokong disectio (Taffel dkk, 1987)
Presentasi bokong adalah letak memenjang dengan kelainan dalam polaritas. Panggul janin merupakan kutub bawah. Sacrum kanan adalah presentasi bokong dengan sacrum janin ada di kuadran kanan depan panggul ibu dan diameter bitrochanterica janin berada pada diameter abligua dexra panggul ibu. Dari ketiga definisi diatas disimpulkan bahwa Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat incisi pada dinding abdomen dan uterus.

Insidensi
Presentasi bokong dalam persalinan terdapat 3 sampai 4 persen kehamilan. Insidensinya berkurang mendekati cukup bulan dan bertambah pada persalinan prematur.

Etiologi presentasi bokong adalah :
- Phematoritas
- Air ketuban yang berlebihan
- Kehamilan ganda
- Placenta sempit
- Fibromyoma
- Hydrocephalus
- Janin besar

Ada empat macam presentasi bokong
1. Sempurna : Flexi pada paha dan lutut
2. Murni : Flexi pada paha , oxtensi pada lutut
3. Kaki : Satu atau dua kaki, dengan extensi pada paha dan lutut.
Kaki merupakan bagian terendah
4. Lutut : Satu atau dua lutut dengan extensi pada paha flexi pada
lutut bagian terendahnya adalah lutut
Mekanisme persalinan presentasi bokong :
1. Bokong dan tungkai bawah
2. Bahu dan lengan
3. Kepala
Indikasi Sectio Caesarea adalah terdiri dari
a. Indikasi absolut antara lain
Panggul sempit dan destrucia mekanis terdiri dari
- Dispcoporsi fetopelvik yaitu fetus tumbuhnya terlampau besar ada ketidak seimbangan relatif antara ukuran bayi dan ukuran pelvis
- Malposisi dan malpresentasi adalah bagian terbesar dari peningkatan insidensi Sectio Caesarea dalam kelompok ini berkaitan dengan presentasi bokong
- Disfungsi uterus adalah mencakup kerja uterus yang tidak terkoordinasi, inertia, cincin kontraksi dan ketidakmampuan dilatasi servix. Partus menjadi lama dan kemajuannya mungkin terhenti sama sekali sering disertai disproporsi dan mal presentasi
- Neoplasma yang menyumbat pelvis menyebabkan persalinan normal tidak mungkin terlaksana
- Persalinan tidak dapat maju karena kontraksi uterus yang tidak efektif. Pelvis yang jelek, bayi yang besar atau defleksi kepala bayi

b. Indikasi relatif adalah kelahiran lewat vagina bisa terlaksana tetapi keadaan adalah sedemikian rupa, sehingga kelahiran lewat sectio caesaria akan lebih aman bagi ibu dan bayi
B. Patofisiologi
Sectio caesaria pada sebagian besar negara ada kebiasaan yang dipraktekkan akhir-akhir ini yaitu setelah prosedur pembedahan caesaria dikerjakan maka semua kehamilan mendatang harus diakhiri dengan cara yang sama. Akan tetapi pada kondisi tertentu ternyata bisa dilakukan dial of labor dengan persalinan lewat vagina.
Histerutumi adalah kehamilan dalam uterus akan disertai bahaya ruptura uteri bila kehamilan sebelumnya diakhiri dengan histerotomi.
Indikasi fetal :
1. Gawat janin
2. Cacat atau kematian janin selanjutnya
3. Infusiensi placenta
4. Diabetes maternal
5. In kompabilitas rhesus
6. Post mortem caesarea
7. Infeksi virus herpes pada traktur genital

Kontraindikasi
Sectio caesaria tidak boleh dikerjakan kalau ada keadaan berikut :
1. Kalau janin sudah mati atau benda dalam keadaan jelek sehingga kemungkinan hidup kecil
2. Kalau jalan lahir ibu mengalami infeksi luas dan fasilitas caesaria extrapert tidak tersedia
3. Kalau dokter bedahnya tidak berpengalaman, kalau keadaannya tidak menguntungkan bagi pembedahan atau kalau tidak ada tenaga asisten yang memadai
Type-type Sectio caesaria
a. Segmen bawah : Incisi Melintang
b. Segmen bawah ; Membujur
c. Sectio Caeserea Klasik
d. Sectio Caeserea Extraparituneal
Faktor yang menambah resiko mortalitas matertial adalah
1. Umur diatas 30 tahun
2. Grandemultiparitas
3. Obesitas, BB melebihi 200 pound
4. Partus lama
5. Ketuban pecah dini
6. Pemeriksaan vaginal yang sering
7. Status sosial ekonomi yang rendah

Sebab-sebab kelemahan ibu
1. Perdarahan
2. Infeksi
3. Anastesia
4. Emboli paru-paru
5. Kegagalan ginjal akibat hipotensi yang lama
6. Obstruksi intenstinal dan ileus Paralitik
7. Decompensasi Cardis
8. Toxemia Gravidarum
9. Ruptura jaringan acatrix uterus
10. Sebab-sebab lain yang tidak ada hubungannya dengan operasi

Pencegahan infeksi
Insiden infeksi dapat dikurangi dengan penggunaan antibiotik sebagai tindakan profilaktik
Faktor- faktor Resiko tinggi
1. Sebelum sectio caesare sudah terdapat proses persalan – khususnya kalau terdapat partus lama, ketuban pecah dini dan sudah dilakukan bebeapa kali pemeriksaan pelvix
2. Anemia, haematokrit dibawah 30 %
3. Obesitas

C. Penatalaksanaan
1. Perawatan perioperatif
2. Pemberian cairan infus, termasuk transfusi darah selama dan sesudah sectio caesare
3. Penyuntikkan preparat analgetik
4. Mengobservasi tekanan darah
5. Mengobservasi urin yang keluar
6. Ambulasi
7. Perawatan luka
8. Laboratorium

D. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan presentasi bahaya
a. Sirkulasi, hipertensi dan perdarahan pervagina
b. Integritas ego, dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan atau infeksi n negatif pada kemampuan sebagai wanita
c. Eliminasi terpasang kateter usin
d. Makanan / Cairan
Abdomen lunak, tidak ada distensi awal
e. Neurosensori, keterbatasan gera dan sensorik dibawah spinal anastesi.
f. Nyeri / ketidaknyamanan, mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya trauma bedah / incisi, nyeri tekan penyert, distensi kandung kemih / abdomen efek anastesi)
g. Pernafasan , bunyi paru jelas dan vesikuler
h. Keamanan, balutan abdomen dapat sedikit noda atau kering dan utuh
i. Seksualitas, fundus
E. Diagnosa keperawatan
1. Kurang pengetahuan . kebutuhan belajar mengenai prosedur pembedahan b/d berkurangnya informasi
2. Nyeri b/d trauma pembedahan, efek anastesi, distensi kandung kemih, abdomen
3. Resiko terhadap cedera b/d efek-efek anastesi trauma jaringan
4. Resiko terhadap infeksi. b/d trauma jaringan
5. Perubahan eliminasi urine b/.d trauma mekanisme normal
6. Kurang perawatan dini b/d ketidaknyamanan fisik

Read More..
 
 
 
Adsense Indonesia